Senin, 15 Juli 2013

MOTIVASI ZAKAT



MOTIVASI ZAKAT
Oleh : Agus Setiawan
Penyelenggara Syariah Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Banyumas

Pembangunan Nasional bukan sekedar pembangunan untuk kesejahteraan material atau jasmani, tetapi pembangunan juga untuk kesejahteraan rohani dan pengembangan mantal dan spiritual.
Hakikat pembangunan yang berdasarkan Pancasila, dirumuskan sebagai pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia. Artinya membangun segala kebutuhan manusia, baik bersifat aspek fisik maupun aspek keagamaan dan kerohaniawan. Dengan demikian agama bukan saja menjadi jiwa di dalam seluruh aspek pembangunan, tetapi sekaligus juga ciri dalam pembangunan yang berdasarkan Pancasila.
Zakat dalam agama Islam adalah kewajiban individual atau fardlu’ain bagi setiap umatnya (dengan syarat tertentu). Kewajiban ini sebagaimana juga kewajiban-kewajiban lainnya seperti sholat, puasa dan ibadah haji harus ditunaikan oleh umat Islam.
Berbeda dari kewajiban-kewajiban lainnya, kewajiban zakat juga berarti perwujudan konkrit dari  hubungan kemanusiaan yang positif. Dana yang dikelurkan dari zakat sama sekali bukan untuk Alloh, namun dana tersebut dikelola dan didayagunakan untuk kepentingan manusia sesuai dengan ketentuan syariat, antara lain : pengentasan kemiskinan, bea siswa, modal kerja produktif, peningkatan kualitas hidup, pembangunan sarana kebutuhan umum, seperti : masjid, pesantren, yayasan pendidikan, rumah sakit, panti asuhan dan lain-lain.
Di alam pembangunan dewasa ini, yang oleh Pemerintah diharapkan supaya semua potensi masyarakat ikut dikerahkan guna mensukseskannya, maka zakat seharusnya dikumpulkan, dikelola dan didayagunakan sebaik mungkin.
Zakat hendaknya bukan saja sebagai uraian yang ada di kitab-kitab fiqih atau sekedar bahan ceramah, tetapi zakat hendaknya merupakan pengeluaran harta untuk mensucikan harta dan untuk kepentingan menolong sesama manusia bangkit dari kebodohan dan kemiskinan.
Diantara berbagai hambatan terlaksananya zakat dengan baik adalah disebabkan masih belum sampainya informasi yang tepat tentang zakat. Karena itu pembinaan motivasi pengembangannya menjadi kewajiban yang pertama dan utama.
Motivasi sebagai upaya untuk mengajak umat Islam memahami, menghayati dan melaksanakan ibadah zakat yang terorganisisr wajib kita kembangkan. Motivasi agar umat Islam merasakan menanggung dosa bila tidak mengerjakan, perlu ditumbuhkan.
Dengan memahami hal-hal di atas, tentunya semakin jelas sasaran-sasaran yang ingin dicapai atau tujuan dari upaya motivasi ini.
Dari pemahaman akan hambatan-hambatan serta tugas yang sebenarnya dari kewajiban zakat, maka secara umum tujuan motivasi zakat dapat dirumuskan antara lain :
1.     Pengertian Zakat.
Zakat sebagai kewajiban agama yang bersifat kemasyarakatan harus benar-benar difahami. Artinya zakat tidak asal ditunaikan, melainkan harus menggunakan pengetahuan tentang lingkungan sekitarnya. Zakat harus memberantas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Zakat juga harus mampu menjembatani persaudaraan si kaya dan si miskin.
Zakat harus mampu merubah kehidupan umat, yang tadinya penerima zakat menjadi pemberi zakat (muzakki). Dengan begitu cara-cara zakat yang tradisional, pelaksanaan yang diam-diam atau bersifat langsung, kurang dapat mencapai tujuan. Zakat hendaknya dikumpulkan dan didayagunakan dengan memperhatikan kondisi si penerima zakat, agar tidak berkepanjangan hidup dalam kemiskinan.
2.     Apresiasi Zakat Terorganisasi.
Zakat yang terorganisasi akan berdaya guna dan berhasil guna, manakala diadakan pengorganisasian yang baik dan efektif dalam pengumpulan dan pemanfaatannya. Bahkan manajemen zakat juga memerlukan pengawasan dan evaluasi dalam pelaksanaanya. Pengorganisasian zakat memerlukan berbagai tenaga ahli keuangan, ahli perencanaan, ahli pengawasan, ahli manajemen dan lain-lain.
Sikap menghargai akan manfaat organisasi juga menghendaki tumbuhnya sikap kerjasama, partisipasi dan kesabaran di dalam pengelolaannya, perlu dikembangkan.
3.     Mengundang Partisipasi.
Partisipasi masyarakat diperlukan bukan hanya untuk mengembangkan/memperbesar sumber-sumber zakat, tetapi juga untuk mengembangkan kerjasama dalam mencapai keadaan harmonis dan keberhasilan bagi umat.
Masyarakat Islam bukan sekedar objek untuk dibina, dibimbing dan diarahkan, namun masyarakat Islam juga sebagai subjek yang harus dihargai, diajak dan dilibatkan di dalamnya.
Pengorganisasian zakat memerlukan kerjasama dan partisipasi masyarakat. Di dalamnya terkandung fungsi motivasi, pembinaan, pengumpulan, perencanaan, pengawasan dan pendistribusian, yang memerlukan keikutsertaan semua tokoh baik dari ‘Ulama/cendikiawan muslimin, perorangan maupun sesama organisasi Islam.
4.     Menumbuhkan Kegairahan.
Kegairahan yang terwujud “rasa senang dan ikut membantu” harus ditumbuhkan di dalam masyarakat.
Kegairahan masyarakat yang berinti mensucikan diri dari hartanya, sekaligus dibarengi dengan kesenangan, keikhlasan dan keridloan membantu orang lain.

Terdapat sejumlah hambatan yang menyebabkan zakat belum meluas tertunaikan dalam memasyarak. Hambatan-hambatan ini ada yang bersifat intern di dalam tubuh umat Islam itu sendiri dan ada yang bersifat ekstern (pengaaruh dari luar).
Sedikitnya ada 5 macam hambatan yang perlu diketahui, untuk selanjutnya diupayakan pemecahannya :
1.     Terbatasnya Pengetahuan Masyarakat.
Pengetahuan umum akan kewajiban yang harus ditunaikan pada umumnya terbatas di dalam ibadah sholat, puasa dan haji. Sholat dan puasa merupakan pelajaran inti bagi setiap yang belajar agama pada permulaan sekali. Bahkan bukan hanya itu, kedua macam ibadah ini juga dipraktekkan sejak dini, bahkan bagi mereka yang belum baligh, yakni anak-anak balita (di bawah umur lima tahun) dan remaja.
Ibadah haji juga cukup populer dan menjadi idaman setiap umat Islam. Selain publikasinya yang luas setiap tahun, ibadah haji juga mempunyai daya tarik sendiri, karena memberi pengaruh dan peningkatan status sosial di masyarakat.
Sebaliknya dari hal-hal di atas, ibadah zakat hanya diajarkan sepintas saja diwaktu permulaan belajar agama. Demikian juga masih sedikit muballigh atau khotib membicarakan dalam khutbah atau tabligh. Dan yang lebih penting lagi, tidak ada latihan praktek zakat sebagaimana latihan praktek sholat dan puasa. Keadaan ini menjadikan ajaran kewajiban zakat kurang dihayati dengan baik.
2.     Konsepsi Zakat.
Ilmu hukum zakat (fiqh zakat) yang ada, pada umumnya hasil perumusan atau ijtihad para ‘Ulama beberapa ratus tahun yang lalu. Fiqh ini ditulis di dalam kitab-kitab berbahasa arab yang dipahami para kyai dan ‘Ulama, kemudian diajarkan di pesantren dan disampaikan kepada masyarakat kita.
Di dalam fiqh lama ini, yang wajib dizakati masih amat terbatas yaitu emas, perak, perdagangan, ternak unta, ternak kambing dan sapi, pertanian makanan yang mengenyangkan, barang temuan serta barang tambang. Begitu juga pelaksanaannya masih sederhana, cukup dibagikan sendiri kepada lingkungannya atau bahkan kepada orang/kyai yang disenengi.
Dengan begitu, maka di zaman modern sekarang ini terasa bahwa fiqh zakat seperti ini tidak memadai lagi. banyak orang cukup mampu tetapi tidak mempunyai harta tersebut di atas. Atau ada yang berzakat, tetapi pelaksanaannya dilakukan bersifat langsung, maka tujuan zakat untuk menolong masyarakat miskin secara merata menjadi tidak tercapai. Pelaksanaanzakat tidak membebaskan kemiskinan tetapi bahkan memelihara kemiskinan. Hal ini karena cara penyerahan langsung, cenderung membuat orang tergantung dan tiap tahun akan menanti atau meminta zakat.
Perlu dikembangkan diqih di Indonesia yang sesuai dengan pertumbungan ekonomi modern dan tetap bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah Rosul. Zakat yang lebih mendekati maksudnya, tentu harus mampu membebaskan kemiskinan dan kebodohan, dengan cara mendayagunakan secara produktif dan si penerima dibina keahliannya agar mampu mengelola modal yang memadai.
3.     Sifat Manusia.
Bukan rahasia lagi bahwa salah satu sifat manusia adalah watak kikir yang melekat pada dirinya. Ini juga disinyalir dalam Al Qur’an bahwa memang begitulah sifat umum manusia. Ia cenderung menghitung dan menumpuk kekayaannya bahkan ia berfikir bahwa kekayaannya itu akan bersifat kekal dalam dirinya.
Orang yang demikian barangkali karena merasa betapa sulitnya mencari dan mengumpulkan harta kekayaannya dan kemudian tiba-tiba sebagian harus dikeluarkan untuk orang lain, yang bahkan bukan familinya.
Ia kurang menyadari bahwa kekayaan itu pada hakikatnya dari Alloh swt. kekayaan itu ia peroleh dengan kesehatan jasmaninya, dengan kecerdasan otaknya, dengan ketrampilan tangannya. Otak, tangan, kaki dan anggota jasmani lainnya, adalah karunia Alloh semata-mata. Ia juga lupa bahwa harta yang bakal menolong di sisi Alloh dan bukan adalah harta yang dibelanjakan di jalan Alloh dan bukan harta yang melimpah ruah yang dimiliki sendiri. Ia tidak tahu atau tidak yakin, bahwa harta yang dikeluarkan zakat dan infaknya akan diberkahi oleh Alloh swt dan akan dilipatgandakan oleh-Nya.
Agama Islam memang melindungi kekayaan pribadi, tetapi sampai batas tertentu dibebani kewajiban untuk sebagian dikeluarkan kepada lingkungan yang sangat membutuhkan.
4.     Perbenturan Pribadi.
Masih ada hambatan lain, terutama bila zakat ingin diorganisasi dengan teratur. Ada kelompok mayarakat atau sebagian organisasi umat Islam yang tidak ikut senang berpartisipasi. Bahkan mungkin menghalangi. Soalnya, terletak pada kekhawatiran dirinya.
Selama ini yang bersangkutan menerima zakat dari muridnya, anak buahnya, dari anggotanya atau santrinya. Baik untuk kepentingan pribadi maupun orang lain. Ia khawatir manakala zakat diorganisasi menjadi satu, maka yang bersangkutan atau organisasi tidak akan mendapat bagian. Tentu hal ini tidak beralasan. Sebab pengorganisasian zakat diharapkan membawa keberhasilan dan kesejahteraan bagi seluruh ummat Islam dalam lingkungan tersebut, bahkan perorangan maupun organisasi Islam untuk membiayai kegiatannya.
Memang harus dipikirkan hendaknya pengorganisasian pelaksanaan zakat oleh BAZIS, juga diperhatikan nasib kyai, ustadz/dzah, serta da’i atau mubaligh untuk dapat hidup layak, dan mampu membiayai pendidikan anak dan keluarganya.
5.     Kepercayaan Muzakki.
Walaupun tidak merasa semua tempat, dibeberapa lingkungan terdapat kekurang percayaan terhadap pengelolaan zakat oleh organisasi. Kekhawatirannya mungkin karena uang zakat itu tidak sampai kepada yang berhak, atau hanya digunakan oleh amil atau panitianya. Curiga karena yang diharapkan wujudnya mungkin tidak kunjung menjadi kenyataan atau mungkin karena tidk pernah ada laporan yang bisa disaksikan secara open management (terbuka).
Pengorganisasian zakat yang benar harus mampu menghilangkan kekhawatiran dan ketidak percayaan semacam itu.
Demikianlah beberapa hambatan yang perlu disadari di dalam mengusahakan motivasi untuk melaksanakan zakat terpadu, terorganisasi, terarah, dan menuju ke asas daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Masih ada hambatan lain misalnya takut kekayaannya diketahui oleh orang lain. Ketakutan ini mungkin disebabkan berbagai hal, baik karena sebab-sebab positif maupun sebab negatif. Demikian juga, ada hambatan lain di beberapa tempat, hanya mau menyerahkan zakat kepada kyai tertentu.
Isi sikap tradisional, karena yang demikian sudah berlangsung dari tahun ke tahun sejak dahulu. Namun tidak disadari bahwa dunia sudah berubah cepat dan cara pengaturan zakat harus disesuaikan dengan perkembangan keadaan tetapi tidak bertentangan dengan kaidah yang ada.

Pelaksanaan motivasi zakat hendaknya ditetapkan kepada kelompok-kelompok mana ditujukannya. Dengan penentuan kelompok sasaran ini, selain menjamin efisiensi pelaksana, juga berpengaruh dalam penentuan metode atau bentuk-bentuk motivasi.
Kelompok-kelompok yang perlu dibedakan antara lain :
1.     Masyarakat Umum.
Kelompok masyarakat umum ialah jama’ah umat Islam biasa, pria atau wanita. Mereka terdiri atas para petani, pengusaha, pegawai negeri atau swasta. Terhadap mereka lebih banyak didekati secara tatap muka, baik dengan ceramah, uraian populer atau percontohan yang bisa dilihatnya.
2.     Pemimpin Islam dan Para Ulama.
Pemimpin Islam ialah mereka yang memimpin atau menjadi pengurus organisasi Islam atau organisasi da’wah pada umumnya. Sedangkan para Ulama atau kyai ialah mereka yang dianggap berkeahlian dalam ilmu agama dan sekaligus memimpin jama’ah.
Pendekatan terhadap kelompok ini lebih banyak bersifat silaturrohmi, tatap muka, diskusi atau musdzakaroh.
3.     Kelompok Terpelajar.
Kelompok terpelajar atau cendekiawan ialah para sarjana muslim di dalam berbagai keahlian terutama di lingkungan perguruan tinggi. Mereka perlu dilibatkan untuk ikut serta bersama-sama menangani pengelolaan zakat terpadu yang diharapkan. Keahlian mereka yang bermacam-macam sangat diperlukan dalam pelaksanaan zakat terarah ini.
Pendekatan yang lebih berhasil apabila dilakukan secara berdiskusi, untuk diajak mengadakan pemecahan bersama dalam bentuk pengorganisasian zakat terpadu. Naskah-naskah tertulis, juga sangat bermanfaat sehingga mereka berkesempatan menelaah terlbih dahulu.
4.     Kelompok Pelajar atau Mahasiswa.
Kelompok ini ialah mereka yang tengah menuntut ilmu baik di sekolah umum, madrasah atau perguruan tinggi. Mereka adalah kader pelanjut bangsa. Mereka yang kelak akan mengisi jabatan-jabatan dan kehidupan negara kita. Untuk itu mereka ini perlu diberikan pengetahuan agama yang tepat, khususnya perihal pelaksanaan zakat yang benar.
Cara pendekatan kepada mereka ialah melalui guru dalam bentuk memasukkan dalm kurikulum sekolah.
5.     Kelompok Umaro’ (pejabat).
Untuk Pejabat Negara, pendekatan pembentukan motivasi dapat dilakukan dengan persuasif  melalui pengajian eksklusif, hari besar Islam dan lain-lain. Diharapkan para pejabat dapat menjadi contoh amalan pelaksanaan zakat bagi masyarakat.
6.     Kelompok Konglomerat.
Kelompok ini dihimbau untuk mengembangkan amalan agama dengan hartanya. Kelompok konglomerat perlu dihimbau untuk ikut berpartisipasi sosial dalam mengentaskan kemiskinan.

Terdapat beberapa sistem atau bentuk untuk melaksanakan motivasi zakat. Bentuk-bentuk ini bersifat pilihan yang berbeda bagi berbagai kelompok yang lain.
Pilihan mana yang diambil, pada umumnya bergantung kepada siapa motivasi ini ditujukkan. Kelompok sasaran mana yang dituju. Diantara cara motivasi yang dapat dilakukan ialah :
1.     Motivasi tatap muka.
Motivasi tatap muka adalah motivasi yang langsung berhubungan dan berhadapan dengan kelompok yang kita tuju.
Motivasi ini menguntungkan karena kita dapat berhadapan langsung dan bisa menjelaskan mengenai masalahnya. Motivator juga akan langsung melihat, apakah motivasi yang dilaksanakan berhasil atau gagal. Reaksi kelompok sasaran, bahkan mimik muka yang dipelihatkan sudah dapat dibaca tentang sampai atau tidaknya misi yang dibawakannya.
Pelaksanakan dalam motivasi tatap muka bisa berbentuk :
a.     Ceramah Pidato.
b.     Tabligh, ceramah khusus agama pada kesempatan pengajian.
c.     Khutbah, baik khutbah jum’at atau khutbah hari raya.
d.     Dalam bentuk pelajaran di muka kelas.
e.     Diskusi. Diskusi terutama kepada kelompok pelajar. Dalam diskusi bukan informasi satu arah, tetapi komunikasi dua arah, dimana peserta dianggap setaraf. Motivator sebagai moderator atau pimpinan diskusi hendaknya cukup pandai membawakan diskusi agar sampai pada tujuannya.
f.      Mudzakaroh. Hampir sama dengan diskusi, tetapi diadakan untuk kelompok sasaran para kyai dan ulama. Intinya sama ialah untuk menumbuhkan berbagai tujuan yang ingin kita capai.
g.     Kursus atau penataran, ditujukkan kepada kelompok tertentu yang kita harapkan menjadi kader yang akan mengembangkan lebih lanjut. Dengan kursus, maka uraian dapat diharapkan tuntas tidak sepotong-sepotong.
Dalam motivasi tatap muka ini, maka diperlukan kesatuan bahan atau bahkan persiapan bahan yang memadai, sehingga materi yang disampaikan benar-benar sampai kepada sasaran yang dituju untuk motivasi tersebut.
Motivasi tatap muka secara individual dimanfaatkan untuk pendekatan kepada kelompok pejabat (Umaro’) dan konglomerat.
2.     Motivasi Percontohan.
Motivasi percontohan dimaksudkan untuk terlebih dahulu memberi contoh, bagaimana zakat terpadu dilaksanakan.
Acapkali tidak mudah untuk mengubah pandangan atau sikap masyarakat. Motivasi dengan tatap muka sering dikatakan sebagai “verbal” hanya teoritis. Untuk itu baik sebagai pelengkap atau sebagai bahan studi atau cara yang lebih meyakinkan, maka dalam suatu lingkungan tertentu diadakan percontohan pelaksanaan zakat terpadu atau terorganisasi ini.
Sudah barang tentu diperlukan sejumlah peserta yang sama-sama meyakini atau dapat dibina keyakinannya. Misalnya di dalam suatu kantor lingkungan suatu masjid atau daerah tertentu.
Dalam motivasi percontohan ini sudah dipraktekkan sistem administrasi pemungutan dan pencatatan yang baik, penyimpanan, perencanaan, pendayagunaan, pengorganisasian, dan pemanfaatan untuk berbagai asnaf. Para Muzakki diberi laporan periodik tentang uang (amanat) zakat diserahkan kepada amil, sehingga kepercayaan terus tumbuh. Dan lebih dari itu, pendayagunaannya dapat dilihat dan dirasakan dalam hal pendayagunaan misalnya menjadi beasiswa bagi anak yang tak mampu, menjadi modal untuk usaha kecil yang terus menerus dibimbing, modal koperasi yang terus dibantu penyelenggaraannya dan seterusnya.
3.     Pembinaan Peran Serta.
Seperti dikemukakan di depan, dalm motivasi zakat hendaknya tercapai bukan hanya pengertin dan penghayatan, melainkan juga keikutsertaan masyarakat terutama para tokoh-tokohnya. Masyarakat dalam lingkungan manapun, mempunyai tokoh yang disegani sebagai “bapak”. Tokoh ini mungkin Ulama’, mungkin sesepuh atau pimpinan formal, yang kita sebut “tokoh kunci”.
Tokoh-tokoh kunci ini perlu didekati dan diajak bersama-sama untuk mengambangkan ide zakat yang terpadu dan teroorganisasi. Kepadanya perlu dikemukakan pengalaman-pengalaman pelaksanaan yang kurang berhasil, sedangkan banyak proyek umat Islam yang membutuhkan dana, seperti pembangunan masjid, penyantunan fakir miskin pengadaan sekolah pembinaan para remaja dan lain-lain.
Cara pendekatan dilakukan dengan kunjungan, silaturrohmi atau rapat bersama untuk membicarakan bentuk pengorganisasian zakat, sebagai pembinaan potensi umat Islam sendiri, dan para tokoh masyarakat tadi dilibatkan sebagai penasehat atau salah seorang pemimpin  di dalam pengorganisasian. Dengan demikian maka program bukan lagi hanya bertanggung jawab sebagai pengambil insiatif melainkan tanggung jawab bersama.
4.     Pendayagunaan Media Massa dan Seni Budaya.
Motivasi ini dapat dikatakan sebagai motivasi tidak langsung, yakni menemui sasaran bukan dengan cara berhadapan tetapi dengan cara menggunakan media cetak, radio, televisi dan film.
Sedangkan seni budaya yang dimaksud disini adalah motivasi zakat yang menggunakan kelompok sarana seni budaya baik lawakan, sandiwara, langen suara, dan lain-lain.
Penggunaan media massa termasuk media cetak terutama untuk memperoleh sasaran yang luas dan massal. Pendekatan tatap muka bagaimanapun hanya mampu mencapai jumlah terbatas, mungkin puluhan atau ratusan. Dan hanya dengan jumlah motivasi yang banyak, baru akan mencapai ribuan sasaran.
Sebaiknya dengan menggunakan media cetak, radio, televisi serta film, maka sasaran hampir tak terbatas jangkauan dapat sampai kepada ratusan riu atau jutaan, termasuk mereka yang ada di pelosok-pelosok yang jauh.
Beberapa media massa dan cara hendaknya diperhatikan. Mulai dari keahlian, persiapan dan pelaksanaannya yang sungguh-sungguh. Dalam hal ini perlu diperhatikan, beberapa media massa sebagai berikut :
a.     Media cetak.
Media cetak seperti majalah surat kabar, brosur dan buku. Media ini mampu mencapai sasaran luas. Materi yang diberikan lebih awet dapat dipelajari berulang-ulang. Berbeda dengan pendekatan lisan yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Hanya saja pelaksanaannya memerlukan keahlian menulis. Juga pembiayaan yang lebih besar untuk penerbitannya. Pendekatan tertulis sangat berguna untuk motivasi para pejabat, mereka yang sibuk dengan bertugas. Dengan bahan tertulis yang diterimanya, akan dilanjutkan oleh para motivator dengan pendekatan langsung.
b.     Media Radio
Radio di tanah air cukup luas, baik RRI, Radio Pemerintah Daerah atau Radio Pemerintah / Swasta. Mereka dengan senang hati memasukkan siaran agama termasuk siaran tentang zakat. Dalam hal ini diperlukan persiapan baik dalam penyusunan naskah siaran. Kemampuan menyampaikan yang cukup baik dan menarik. Syarat penting harus dipenuhi ialah bahwa berbicara di radio tidak dapat berpanjang-panjang. Menurut penelitian, konsentrasi pendengaran terhadap uraian di radio hanya 7-10 menit saja. Caranya bisa berupa sandiwara atau dialog dan juga sarasehan.
c.     Media Televisi.
Siaran televisi dewasa ini sudah mencapai hampir seluruh masyarakat Indonesia. Stasiun pemancar tidak hanya ada di Ibu Kota Jakarta, tetapi juga ada di kota-kota besar di seluruh Indonesia dan juga adanya televisi-televisi swasta seperti TPI, RCTI, SCTV, Indosiar, TransTV, GlobalTV, MNCTV dan lain-lain.
Dindingkan dengan media radio, siaran televisi lebih berkesan, karena penonton tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat.
Persyaratan juga dibutuhkan melibihi dengan tambahan harus mampu tampil dengan menarik. Penampilan yang kurang baik karena pakaian, make up, dan lain-lain akan berpengaruh besar membawa kegagalan atau ketidak berhasilan siaran.
Siaran tersebut berbentuk :
1)    Ceramah.
2)     Sandiwara.
3)    Lawakan.
4)    Tanya Jawab.
d.     Media Seni Budaya.
Seni budaya yang beraneka ragam rupa bentuknya tentunya tidak semua dapat disisipi pesan siaran zakat. Hanya dalam bentuk sandiwara, fragmen, pembacaan puisi, atau lawakan dapat dilakukan. Dalam hal ini perlu diingat persyaratan untuk tidak terlalu membebani jenis seni budaya tersebut secara berlebihan. Bila tidak, masyarakat akan segera meninggalkannya dan menganggap sebagai propaganda.
Berikan seniman sifat otonomi dan bahan-bahan ditetapkan sesuai estetika dan rasa seni yang memerlukan keindahan dan sifat harmonisnya.
5.     Pemasukan dalam Kurikulum Sekolah / Madrasah.
Pendekatan Nomor 1 sampai dengan Nomor 4 di atas, pada umumnya berlaku untuk kelompok sasaran orang dewasa, dan mereka yang langsung berkepentingan dengan pelaksanaan zakat. Baik muzakki, amil, da’i maupun peneriman zakat. Tetapi motivasi ini, juga tidak hanya berhenti disitu.
Untuk jangka panjang, kita harus mncapai sasaran para “kader” bangsa, ialah para siswa dan mahasiswa. Pengalaman masa lalu dimana para pelajar kurang diberi pengetahuan praktis tentang zakat hendaknya tidak terulang. Untuk itu, pelajaran tentang zakat di sekolah atau madrasah bahkan di perguruan tinggi hendaknya tidak lagi semata-mata berisi fiqh model lama, tetapi sudah harus diganti dengan fiqh yang baru yang disusun oleh Ulama’ Indonesia dan berisi ketentuan baru dalam hal pengorganisasian, pengumpulan, pendayagunaan harta zakat dan lain-lain. Demikian, manakala para siswa ini terjun ke masyarakat sudah tersedia bekal ilmu pengetahuan yang sesuai dengan yang dbutuhkan.
Untuk mencapai pelaksanaan ini diperlukan adanya pendekatan kepada :
a.      Madrasah dan Instansi yang bersangkutan, seperti Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam, Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum, dan Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam pada Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Dari Instansi tersebut diharapkan instrusi untuk maksud di atas.
b.      Para guru / Kyai yang mengajar dalam mata pelajaran Fiqh, baik tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah atau Aliyah. Termasuk juga para Dosen Fiqh di Perguruan Tinggi.
c.       Sekolah-sekolah umum dan Instansi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terkait.

Manajemen motivasi zakat memerlukan zakat memerlukan tahap-tahap yang terarah dan terencana. Agar tujuan motivasi zakat dicapai sesuai dengan target, perlu langkah-langkah perencanaan pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi.
1.     Perencanaan.
Perencanaan yang dimaksudkan ialah perumusan dari tujuan, cara, langkah, waktu, tempat maupun sasaran yang ingin dicpai dalam waktu tertentu. Semua hal di atas hendaknya ditetapkan lebih dahulu dan secara tertulis.
2.     Pengorganisasian.
Setelah rencan tersusun mantap, disusun organisasi, ke dalam organisasi termasuk misalnya : bagaimana srukturnya, bidang-bidang atau seksi apa yang diperlukan, berapa ketua, sekretaris, bendahara dan lain-lain. Luasnya organisasi ditetapkan berdasarkan luasnya rencana atau sasaran yang ingin dicapai dan bukan sebaliknya. Dalam pengorganisasian termasuk juga penetapan personil yang tetap dalam bidangnya.
3.     Pelaksanaan.
Pelaksanaan berarti bekerjanya rencana yang menyangkut waktu, cara, tempat, sasaran, arah yang dituju, pembiayaan dan lain-lain. Dalam pelaksanaan ini langkah-langkah kesatu, kedua dan seterusnya diharapkan berjalan secara lancar dan tertib.
Pelaksanaan motivasi zakat harus selalu berpedoman kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 29/47 tahun 1991 dan Instruksi Menteri Agama Nomor 5 tahun 1991 dan Peraturan Perundangan lainnya. Sebagai lembaga agama, dalam evaluasi zakat sebagai hukum yang hidup dan ditaati oleh umat Islam Indonesia karena diperintahkan oleh Al Qur’an dan Sunnah Rosul.
4.     Pengawasan.
Pengawasan pelaksanaan motivasi zakat harus dilaksanakan oleh pejabat atasan panitia zakat (BAZIS), oleh Bazis sendiri, oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama dan masyarakat (social control).

Evaluasi sangat penting untuk diketahui kekeliruan kekurangan atau sebab-sebab ketidak berhasilan, agar tidak terulang pada masa berikutnya.
Evaluasi juga ditukukan untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan rencana sesuai dengan target yang diharapkan. Dalam hal motivasi zakat kepada masyarakat umum misalnya, apakah sudah berubah tanggapan-tanggapan negatif atau keliru tentang zakat dan sebagainya.
Pelaksanaan evaluasi dilakukan dengan cara diskusi khusus dengan thema evaluasi, pengisian daftar pertanyaan tentang zakat dan sebagainya.
Waktu evaluasi diadakan secara periodik atau setidaknya diadakan setelah pelaksanaan suatu program motivasi.
Demikian yang dapat kami tulis semoga ada manfaatnya.
                                                                                        Purwokerto, 15 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar